Tampilkan postingan dengan label Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Desember 2013

Identifikasi penyebab kecelakaan kerja di PLN dan cara pencegahannya



Penyebab Terjadinya Kecelakaan  Listrik

1.      Kabel atau hantaran pada instalasi listrik terbuka dan apabila tersentuh akan menimbulkan bahaya kejut.
2.      Jaringan dengan  hantaran telanjang
3.      Peralatan listrik yang rusak
4.      Kebocoran listrik pada peralatan listrik dengan rangka dari logam, apabila terjadi kebocoran arus dapat menimbulkan tegangan pada rangka atau body
5.      Peralatan atau hubungan listrik yang dibiarkan terbuka
6.      Peralatan atau hubungan listrik yang dibiarkan terbuka
7.      Penggantian kawat sekring yang tidak sesuai dengan kapasitasnya sehingga dapat menimbulkan bahaya kebakaran
8.      Penyambungan peralatan listrik pada  kotak kontak(stop kontak) dengan kontak tusuk lebih dari satu (bertumpuk).

Cara pencegahan

Keselamatan dalam pekerjaan
Memasuki ruang kerja listrik

  1. Seseorang yang memasuki ruang kerja listrik harus:
a) Mendapat izin dari petugas yang berwenang dan jika perlu harus diawasi oleh petugas yang ditunjuk.

b) Ditemani paling sedikit oleh seorang untuk saling mengingatkan kemungkinan bahaya dan saling membantu menghindarkan tindakan yang keliru yang dapat menimbulkan kecelakaan.

c) Dalam keadaan jasmani dan rohani sehat, menggunakan pakaian kering, waspada terhadap bahaya yang mungkin timbul, dan mengetahui dengan pasti apa yang akan dilakukannya dalam ruang tersebut.

d) Membawa atau memakai perlengkapan pengaman yang diperlukan; seperti sepatu pengaman, bangku isolasi, dan tongkat pengaman.

e) Memperhatikan rambu peringatan dan menjaga agar badan dan anggota badan berada dalam jarak yang aman dari perlengkapan listrik yang bertegangan. Jika tidak sedang melakukan pekerjaan, sedapat mungkin kedua tangan dimasukkan ke dalam saku.

  1. Ruang kerja listrik yang dimasuki harus mendapat penerangan yang cukup.
Bekerja pada keadaan tidak bertegangan

  1. Perlengkapan listrik yang akan dikerjakan pada keadaan tidak bertegangan harus dibebaskan dari tegangan  dan di tempat sarana pemutusan sirkit harus dipasang rambu peringatan yang menyatakan seseorang sedang bekerja pada sirkit yang diputuskan itu.
  2. Sebelum mulai dilaksanakan sesuatu pekerjaan, seseorang yang berwenang
harus melakukan pemeriksaan tegangan dengan teleskop atau lampu uji untuk memastikan bahwa perlengkapan yang akan dikerjakan telah bebas dari tegangan.
  1. Perlengkapan yang akan dikerjakan harus dibumikan secara baik. Suatu
pembumian yang baik diperoleh dengan penghantar pembumi dari tembaga yang mempunyai penampang sekurang-kurangnya 16 mm2 atau dengan penghantar pembumian dari bahan lain yang setaraf dengan itu. Penghantar pembumi terus dibumikan dahulu dan setelah itu baru dihubungkan dengan
perlengkapan yang akan dibumikan.
Penghantar pembumi harus dipasang kelihatan dari tempat orang yang sedang bekerja dan jika tidak mungkin, penghantar pembumi itu harus dipasang pada jarak yang dekat, sehingga orang yang bekerja itu dapat dengan mudah memeriksa keadaan penghantar pembumi tersebut.
  1. Orang yang ditugasi memimpin pekerjaan pembebasan tegangan, harus
mempunyai surat penugasan dari atasannya yang berwenang. Ia bertanggung jawab penuh bahwa bagian sirkit yang diputuskan itu benar-benar telah dibebaskan dari tegangan sesuai dengan peraturan keselamatan kerja yang berlaku.
  1. Sebelum melaksanakan pekerjaan, setiap sakelar/pemisah sirkit yang
memungkinkan penyaluran tegangan harus terkunci/digembok dan anak kuncinya harus disimpan oleh petugas yang diberi wewenang untuk memimpin pekerjaan tersebut. Penguncian semacam itu harus dilaksanakan menurut prosedur tertentu, untuk mencegah kemungkinan orang lain dapat membuka kunci sakelar/pemisah sirkit tersebut.

  1. Jika transformator yang dihubungkan paralel hendak dibebaskan dari tegangan,
sakelar pada kedua sisi tegangan harus dibuka. Selain itu, untuk membebaskan tegangan dari transformator yang mempunyai transformator tegangan, pengaman lebur di sisi tegangan rendah dari transformator tegangan juga harus dilepaskan, untuk menghindarkan kemungkinan transformator menjadi bertegangan kembali melalui tusuk kontak gawai sinkronisasi atau voltmeter. Titik netral transformator juga harus dibuka, kecuali jika ia dihubungkan dengan penghantar pembumi tersendiri dengan baik.
  1. Bekerja pada travers jalur udara harus memenuhi syarat sebagai berikut:

a) Tenaga kerja harus mendapat surat izin terlebih dahulu dari petugas yang berwenang.

b) Bekerja harus selalu di bawah pengawasan seorang ahli yang berada di tempat pekerjaan.

c) Sabuk pengaman harus dipakai dengan benar dan pakaian kerja yang memenuhi syarat keselamatan kerja harus selalu dipakai.

  1. Pada sirkit ganda, jika pekerjaan dilakukan pada salah satu sirkit sedangkan sirkit yang lain masih bertegangan, masing-masing kawat penghantar pada sirkit yang dilakukan pekerjaan, harus dihubungkan dengan penghantar pembumi pada kedua ujung sirkit dan juga pada suatu tempat yang berdekatan dengan tempat akan dilakukan pekerjaan, dengan maksud untuk menghindarkan terjadinya kejutan karena induksi dari sirkit listrik yang bertegangan

  1. Bagian perlengkapan yang telah dibebaskan dari tegangan dan akan dibuang
muatan listriknya harus diperiksa secara visual dan dengan menggunakan lampu indicator tegangan untuk memastikan bahwa bagian tersebut benar-benar telah terputus dari sumbernya. Membuang muatan listrik dapat dilakukan sebagai berikut:
a) Jika pada perlengkapan listrik tersebut terpasang gawai pembumian permanen, muatan listrik dapat dibuang menurut prosedur yang telah ditentukan.
b) Jika pada perlengkapan listrik tersebut tidak terpasang gawai pembumi, muatan listrik dapat dibuang dengan cara sebagai berikut:
1) Sepotong kawat tembaga, sebaiknya fleksibel dan telanjang dengan penampang sekurang-kurangnya 16 mm2, terlebih dulu dibumikan dengan baik. Pada ujung lainnya diikatkan tongkat yang berisolasi sesuai dengan tegangan kerja perlengkapan. Petugas ahli yang berwenang harus berdiri cukup jauh dari perlengkapan, lalu menyentuhkan kawat pada ujung tongkat kepada semua penghantar perlengkapan sekaligus atau satu persatu.
2) Jika cara a) tidak praktis untuk dilakukan, setelah kawat tembaga tadi dibumikan dengan baik, ujungnya dilemparkan ke penghantar perlengkapan dengan cermat sehingga jatuh tepat pada sasarannya.
  1. Sebelum suatu kabel tanah dipotong, orang yang diperintahkan memotong kabel
tanah itu harus sudah yakin bahwa kabel tanah tersebut telah bebas dari tegangan dan kedua ujungnya telah dibumikan, dan ia juga harus telah melihat bahwa suatu paku besi yang diikat dengan penghantar pembumi telah dipakukan dalam inti kabel tanah ditempat dimana kabel tanah tersebut harus dipotong.
  1. Jika melepas penghantar pembumi yang tidak permanen, maka yang dibuka
terlebih dahulu adalah ikatan pada perlengkapan listrik yang biasa bertegangan, dan kemudian baru ikatan pada pembumi.




Bekerja pada keadaan bertegangan
  1. Bekerja pada keadaan bertegangan dapat dilakukan jika syarat berikut dipenuhi:
a) Tenaga kerja harus sedikit-dikitnya dua orang, harus ahli, terampil bekerja pada keadaan bertegangan, dan memiliki surat izin kerja dari petugas yang berwenang. Sekurangkurangnya
seorang diantaranya harus bertindak sebagai pengawas ditempat kerja.
b) Tenaga kerja harus dalam keadaan sehat rohani dan jasmani serta sadar, tidak mengantuk, dan tidak dalam keadaan mabuk.
c) Tenaga kerja harus berdiri ditempat yang berisolasi dan atau menggunakan perkakas yang berisolasi dan andal, atau perlengkapan lain yang memenuhi syarat, sesuai dengan tegangan kerja perlengkapan yang akan dikerjakan.
d) Tenaga kerja harus menggunakan pengaman badan yang sesuai seperti sarung tangan pengaman, topi pengaman, sepatu pengaman dan sabuk pengaman.
e) Semua perlengkapan harus diperiksa setiap kali akan dipakai sesuai dengan petunjuk yang berlaku.
f) Keadaan cuaca harus baik, tidak mendung dan tidak hujan bila bekerja di luar ruangan.
  1. Dilarang bekerja dalam keadaan bertegangan di:
a) Ruang dengan bahaya kebakaran atau bahaya ledakan.
b) Ruang lembab dan ruang sangat panas.
  1. Pekerja dilarang menyentuh perlengkapan listrik yang bertegangan dengan tangan telanjang meskipun ia telah membuat dirinya terisolasi dari bumi.
  2. Untuk pelaksanaan pekerjaan pencabangan kabel tanah dalam keadaan
bertegangan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a) Tenaga kerja wajib memakai gawai pengaman berupa kaca mata pengaman, sarung tangan pengaman.
b) Memotong selubung logam harus dengan perkakas khusus yaitu yang tidak merusak kabel tanah.
c) Jarak rambat antara ujung selubung logam setelah dipotong dan penghantar yang isolasinya akan dikupas harus cukup sehingga tidak mungkin terjadi loncatan listrik dari penghantar ke selubung logam.
d) Setiap inti kabel tanah harus dilapisi isolasi tambahan yang cukup dan bila perlu inti yang satu direnggangkan dari inti yang lain dengan gawai tertentu.


Pencegahan bahaya kebakaran

  1. Instalasi listrik harus dirancang, dipasang dan digunakan demikian rupa sehingga tidak menimbulkan bahaya kebakaran
  2. Pemasangan instalasi listrik harus dilaksanakan demikian rupa sehingga
penjalaran kebakaran melalui penyekat ruang, lantai, ruang kosong atau rongga, lorongtegak, saluran ventilasi dan pengatur udara dapat dicegah dan atau dibatasi sampai sekecil.
  1. Jika penyekat kebakaran tertembus oleh kabel, maka lubang sekitar kabel
tersebut harus ditutup dengan bahan yang memenuhi syarat tahan api.

Rabu, 06 Maret 2013

Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja


BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
            Dalam makalah yang telah dibahas ini latar  belakang  masalah yang muncul pada pendokumentasian merupakan unsur utama dari setiap manjemen perusahan  yang harus dibuat sesuai dengan kebutuhan perusahaan .Proses dan prosedur  kegiatan harus ditentukan dan didokumentasikan serta diperbaharui jika diperlukan.Pada masalah yang tejadi adalah strategi pendokumentasian,kegiatan pendukung K3,Keamanan Bekerja Berdasarkan Sistem Manajemen K3, Pelaporan dan Kebaikan Kekurangan K3, dan Tata Cara Pelaporan Kecelakaan Pada K3.
B.Identifikasi Masalah
            Pada identifikasi masalah yang dibahas tentang:
1.      Apakah pengertian strategi pendokumentasian?
2.      Apakah pengertian kegiatan pendukung K3?
3.      Bagaimanakah keamanan bekerja berdasarkan sistem manajemen K3?
4.      Bagaimanakah pelaporan dan kebaikan kekurangan kekurangan K3?
5.      Bagaimanakah tata cara pelaporan kecelakaan pada K3?
C.Batasan Masalah
            Pada makalah ini dibatasi tentang:
1.Pengertian strategi pendokumentasian
2.Pengertian kegiatan pendukung K3
3.Keamanan bekerja berdasarkan sistem manajemen K3
4.Tata cara pelaporan kecelakaan pada K3


D.Rumusan Masalah
            Pada rumusan maslah ditulis
1.Apakah pengertian strategi pendokumentasian?
2.Apakah pengertian kegiatan pendukung K3?
3.Bagaiamana keamanan bekerja berdasarkan sistem manajemen K3?
4.Bagaimana tata cara pelaporan kecelakaan pada K3?
E.Tujuan Masalah
1.Untuk mengetahui pengertian strategi pendokumentasian
2.Untuk mengetahui pengertian kegiatan pendukung K3
3.Untuk mengetahui keamanan bekerja berdasarkan sistem manajemen K3
4.Untuk mngetahui tata cara pelaporan kecelakaan pada K3
F.Manfaat Masalah
            Pada manfaat yang telah dibahas yaitu agar mahasiswa lebih mudah dan mengerti tentang
Dokumentasi keselamatan kerja dan mengerti tata cara pelaporan kecelakaan yang telah terjadi pada keselamatan kerja tersebut.juga lebih mengerti prosedur –prosedur pada dokumentasi.






BAB II
KAJIAN TEORI
A.    Strategi Pendokumentasi
a.       Perencanaan Rencana Strategi Keselamatan dan Kesehatan Kerja
1.      Petugas telah mengidentifikasi dan menilai potensi bahaya dan resiko
2.      Perencanaan strategi keselamatan dan kesehatan kerja yang telah ditetapkan
3.      Rencana khusus yang berkaitan dengan proses tempat kerja yang telah dibuat
4.      Rencana didasarkan pada potensi bahaya serta catatan keselamatan dan kesehatan kerja
b.      Manual sistem manajemen K3
c.       Peyebarluasan informasi keselamatan dan kesehatan kerja
B.     Kegiatan Pendukung K3
a.       Komunikasi
Komunikasi dua arah yang efektif dan pelaporan rutin yang merupakan sumber penting dalam penerapan sistem manajemen K3
b.      Pelaporan
Prosedur pelaporan informasi yang terkait dan tepat waktu harus ditetapkan untuk menjamin bahwa sistem manajemen K3 dipantau dan kinerjanya ditingkatkan.
Prosedur  pelaporan terbagi 2 yaitu :
1.      Prosedur pelaporan internal
2.      Prosedur pelaporan eksternal
c.       Pendokumentasian
Pendokumentasian merupakan unsur utama dari setiap sistem manajemen dan harus dibuat sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Kumpulan pendokumentasian pada K3
1.      Menyatukan secara sistematik kebijakan, tujuan dan sasaran keselamatan dan kesehatan kerja
2.      Mendokumentasikan pranan, tanggung jawab, dan prosedur
3.      Memberikan arah mengenai dokumen yang terkait
d.      Pengendalian dokumen
1.      Dokumen dapat diidentifikasi sesuai dengan uraian tugas dan tanggung jawab.
2.      Dokumen ditinjau ulang secara berkala dan jika diperlukan dapat direfisi.
3.      Dokumen sebelum diterbitkan harus lebih dahulu disetujui oleh personel yang berwenang
e.       Pencatatan mengenai manajemen informasi
Merupakan sarana bagi perusahaan untuk menunjukkan kesesuaian penerapan sistem manajemen k3
C.    Keamanan Bekerja Berdasarkan Sistem Manajemen K3
a.       Sistem kerja
b.      Pengawas
c.        Seleksi dan penetapan personil
d.      Lingkungan Kerja
e.       Pemeliharaan, Perbaikan dan Perubahan Sarana Produksi
f.       Playanan 
g.      Kesiapan untuk menangani keadaan darurat
h.      Pertolongan pertama pada kecelakaan
D.    Pelaporan dan Kebaikan Kekurangan K3
a.       Laporan keadaan darurat
b.      Laporan insiden
c.       Penyelidikan kecelakaan kerja
d.      Penanganan masalah
E.     Tata Cara Pelaporan Kecelakaan Pada K3
1.      Pengurus wajib melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi ditempat kerja yang dipimpinnya.
2.      Kewjiban melaporkan sebagaimana dimasukkan dalam pasal 2 ayat 1
3.      Pengurus wajib melaporkan secara tertulis kecelakaan dengan formulir laporan kecelakaan.
F.     Pemeriksa kecelakaan
1.      Setelah menerima laporan pegawai pengawas harus melakukan pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan
2.      Pegawai pengawas dalam melaksanakan pemeriksaan dan pengkajian kecelakaaan harus menggunakan formulir laporan pemeriksaan
G.    Contoh Laporan Kecelakaan

Wajib dilaporkan dalam 2 x 24 jam setelah terjadinya kecelakaan
Bentuk K.K.2.A
Nomor kecelakaan :
Diterima tanggal:
(Diisi oleh petugas kantor departemen tenaga kerja)


Nomor agenda JAMSOSTEK:
1.Nama perusahaan

NPP
Alamat dn Nomor Tlp

Kode pos
Jenis usaha


Jumlah Tenaga Kerja

L
P
No.pend.(Bentuk K.K1)

Nomor akte

2.Nama Tenaga Kerja

No.KPA:
Alamat dan No.Tlp

Kode pos
No.Telp:
Tempat dan Tanggal Lahir

L:
P:
Jenis Pekerjaan

3.a.Tempat Kecelakaan

b.Tgl Kecelakaan

Jam:
4.Uraian Kejadian kecelakaan
1.Bagaimana terjadinya kecelakaan
*)


*)
F**)


G**)
2.Jenis Pekerjaan waktu kecelakaan
                                            *)
3.Saksi yang melihat kecelakaan
                                            *)
5.a.sebutkan mesin,instalasi alat proses,cara kerja,bahan atau lingkungan yang menyebabkan kecelakaan
*)
H**)
b.sebutkan bahan preses,lingkungan cara kerja atau sifat pekerjaan yang menyebabkan penyakit akibat kerja
*)
E**)
6.akibat kecelakaan

a.akibat yang diderita korban
Meninggal dunia

sakit
Luka - luka
b. sebutkan bagian tubuh yang sakit

c.sebutkan jenis penyakit akibat kerja

1.jabatan /pek

2.lama bekerja

d.keadaan pendrita setelah pemeriksaan pertama

1.berobat jalan
Sambil bekerja    /tidak bekerja
2.dirawat di alamat:
Rumah sakit/puskesmas poliklinik

7.Nama dan Alamat dokter

8.Kejadian ditempat kerja

9.perkiraan kerugian :
a.waktu
b.material

10.upah tenaga kerja
sehari
Sebulan
Borongan

a.upah
Rp
b.penerimaan lain-lain
Rp
c.jumlah a+b
Rp
11.Kecelakaan dicatat dalam buku kecelakaan pada No.urut

12.Keterangan lain- lain yang perlu









_____________________________        _________                  _________
Nama dan Tanda tangan pemimpin                              jabatan                                   Tanggal
Contoh pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan kerja
KANDEP TENAGA KERJA:                                                                                            No:
KANWIL DEPNAKER:                                                                                                     KLUI:
I.DATA UMUM:
A.Identifikasi perusahaan
1.       Nama Perusahaan                                                                          :
2.       Alamat Perusahaan                                                                       :
3.       Nama Pengurus                                                                               :
4.       Alamat Pengurus                                                                            :
B.Informasi kecelakaan
1.       Tempat,tanggal,jam kecelakaan                                                   :
2.       Sumber Laporan                                                                               :
3.       Tanggal Diterima Laporan                                                              :
4.       Tanggal pemeriksaan                                                                       :
5.       Atasan Langsung Korban                                                                               :
6.       Saksi – saksi                                                                                       :
C.Lain-lain
1.       PSK3/Ahli K3                                                                                     : Ada/Tidak *)
2.       KKB/PP                                                                                               : Ada/Tidak *)
3.       Program Jamsostek                                                                           : Ada/Tidak *)
4.       Unit Kerja SPSI                                                                                  : Ada/Tidak *)
5.       Jumlah Tenaga Kerja                                                                       :
6.       Asuransi Lainnya                                                                               :
A
 
II.DATA KORBAN
A1 A
 
                1.Jumlah:                                                                              orang                                     
                   Laki – laki:                                                                        orang                     
A2 A
 
  Perempuan:                                                                       orang                     

2.Nama: a Umur:                                                                                tahun                     aA

           
 b Umur:                                                                tahun                    

A4 A
 
            c.*)
3.Akibat kec: Mati:                                                             orang                     


A5 A
 
 
                   Luka berat:                                                 orang                     
               
A5 A
 
                       Luka ringan:                                                  orang                                     
                    
       Tanpa korban:   Jam orang yang hilang
        Jumlah kerugian: Rp
                4.Bagian Tubuh yang cidera
                   a.                                                                                                                         
  b.*)

III.FAKTA YANG DIDAPAT
                1.Kondisi yang berbahaya
                   a.
                   b.




                   c.
                   d.
                   dan seterusnya
                2.Tindakan yang berbahaya
                   a.
                   b.
                   c.
                   d.
                   dan seterusnya
Iv.  URAIAN TERJADINYA KECELAKAAN
KODE B
 
                *)                                                                                                                           
KODE C
 
v.  SUMBER KECELAKAAN                                                                                                        
               
KODE D
 
VI.TYPE KECELAKAAN                                                                                                                                                
KODE D
 
VII.PENYEBAB KECELAKAAN                                                                  
1.Kondisi yang berbahaya
2.Tindakan yang berbahaya
VIII.SYARAT YANG DIBERIKAN
IX.TINDAKAN LEBIH LANJUT
X.HAL-HAL LAINYANG PERLU DILAPORKAN
                1.Jumlah jam kerja/hari                                                                    :               jam
                2.Jumlah jam orang yang hilang                                                      :               jam orang

Mengetahui                                                                                                                          ....,.........19..

Kepala kantor
Departemen tenaga kerja                                                                  Pegawai Pengawas,
(........................................)                                                                     (...................................)














BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
a.Kesimpulan
Pendokumentasian merupakan unsur utama dari setiap sistem manajemen dan harus dibuat sesuai dengan kebutuhan perusahaan.Prosedur pelaporan informasi yang terkait dan tepat waktu harus ditetapkan untuk menjamin bahwa sistem manajemen K3 dipantau dan kinerjanya ditingkatkan.Pencatatan mengenai manajemen informasi Merupakan sarana bagi perusahaan untuk menunjukkan kesesuaian penerapan sistem manajemen k3Komunikasi dua arah yang efektif dan pelaporan rutin yang merupakan sumber penting dalam penerapan sistem manajemen K3.
b.Saran
Pada makalah yang telah dibuat ini mungkin banyak kesalah maka perlu memahami kembali tentang dokumen –dokumen pada kesehatan dan keselamatan kerja. 
















DAFTAR PUSTAKA
Kansil,christine.2001.Kitab undang-undang ketenagakerjaan.Jakarta:PT Pradnya Paramita.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...