Senin, 09 Juli 2012

CERITA DICK HOYT DAN RICK HOYT




Sebuah kisah yang membuatku setuju bahwa ini adalah inspirasi bagi kita semua dan gelar “AYAH SEPANJANG ABAD” pantas disandang olehnya.

Bermula dari kelahiran seorang bayi, ditahun 1962 yang dinyatakan menyandang “Tunadaksa Spastik dengan Celebral Palsy”.   Yaa.. Rick mengalami terputusnya pasokan Oksigen saat proses kelahirannya. Di duga, ini karena lilitan tali pusar di lehernya. Dokter yang merawatnya, saat menyampaikan diagnosa,  memberikan gambaran kepada kedua orang tuanya (Dick dan Judy) bahwa seumur hidupnya Rick akan terus tak mampu melakukan apapun bagaikan sayuran yang telah layu.

Menanggapi diagnosa dari dokter tersebut, ibu Rick , Judy Hoyt berkata, ”Kami tidak akan pernah membiarkannya “pergi” (saat itu dokter mengatakan Rick sudah tidak punya harapan). Kami mencintainya, Dia adalah kami,  Kami  akan  bekerja sama dengannya.  Membawanya sampai di saat ia akan mencapai pengembangan potensi terbesarnya. Kita tidak akan pernah, tidak akan pernah membiarkan dia “pergi” hanya karena dia berbeda ”.

Sejak itu, Rick dan kedua orang tuanya berjuang keras. Mereka  berusaha Rick mendapat kesempatan sebagaimana anak-anak pada umumnya. Hingga suatu hari orang tuanya menyadari bahwa bola mata Rick bergerak terus mengikuti gerakan-gerakan orang dan benda-benda yang mampu bergerak dalam ruangan. Kemudian mereka juga menyadari bahwa Rick memiliki kecerdasan yang sama, seperti kedua adiknya. Ya, orang tuanya melihat Rick bereaksi  positif,  saat diajarkan huruf-huruf dan hitungan sederhana. Kegembiraan akan kemajuan Rick membuat kedua orang tua ini menjadi bersemangat dan mendaftarkan Rick pada sekolah umum.

Sayangnya kegembiraan dan semangat itu terpatahkan. Sekolah yang dimaksud tidak dapat menerima Rick Dengan alasan, mereka tak dapat menerima murid-murid yang tak mampu berkomunikasi melalui bahasa lisan maupun isyarat sederhana.
Setelah ditolak, mereka pergi ke ” Departemen Teknik di Universitas Tuft” .  Untuk mencari tahu apakah pihak universitas,  bisa membantu menciptakan  alat komunkasi yang dapat membuat Rick berkomunikasi.  Awalnya para insinyur  mengatakan tidak ada yang bisa mereka lakukan. Tak kenal menyerah,  Orang tua Rick bersikeras dan  menunjukkan  mereka  bahwa  Rick  mampu  berkomunikasi  dan mampu memahami apa yang terjadi di sekelilingnya.  Mereka memcoba memancing perhatian para insinyur dengan mengatakan, bahwa Rick mulai senang membuat lelucon-lelucon yang sangat menggelikan.

Kepada pihak universitas,  Orang tua Rick menawarkan $ 5.000 untuk membuat perangkat tersebut.  Sebuah jumlah yang sangat besar, mengingat kejadian ini ada ditahun 80an awal. Sikap ini, membuahkan hasil, terciptalah apa yang keluarga Hoyt sebut “The Hope Machine”. Dengan mesin ini, Rick  mampu  berkomunikasi  dengan  memanfaatkan kemampuannya.  Ia tinggal menggerakkan kepalanya untuk mengaktifkan touch pad komunikasi.  Layar  akan  terisi dengan  deretan  huruf. Dan ketika dapat menggunakan tumbol saklar yang ada dikepalanya untuk merubah-rubah letak krusor. Kata pertama?  ”Go Bruins!”(saat itu Boston Bruins baru saja memenangkan Piala Stanley). Jadi mereka juga menemukan bahwa  Rick  adalah seorang penggemar olahraga.



Saat pertama bagi team Hyot.

          Dengan alat komunikasi istimewanya, Rick akhirnya dapat mengikuti sekolah umum. “Westfield Middle School”. Guru olahraganya, Dokter Steve Sartori, memperhatikan bahwa Rick selalu berusaha ikut ambil bagian dalam kegiatan olahraga disekolahnya. Fisiknya bukan hambatan untuk terus berusaha mencoba. Rick sangat menikmati saat-saat olahraga tersebut. Beliau menawarkan Rick untuk mencoba sebuah pertandingan yang ditujukan untuk menggalang dana, bagi seorang mahasiswa yang dinyatakan lumpuh dalam sebuah kecelakaan.
Rick senang sekali, dan meminta ayahnya, Dick Hoyt, untuk diijinkan bergabung. Saat itu usia Dick telah mencapai 40 tahun, dan ia bukanlah pelari. Tapi ia  bersemangat  mensupport putranya. Berdua mereka berlari mengelilingi lapangan, Dick mendorong kereta roda, yang ditumpangi putranya. Di awal pertandingan, banyak orang mengatakan mereka tak akan pernah berhasil, bahkan hanya untuk 1/2 putaran. Ternyata mereka berhasil menyelesaikan dengan baik dan Rick pun berkata kepada ayahnya Dick Hoyt  ”Ayah, saat aku berlari denganmu tadi, rasanya seperti aku tidak cacat.”

“What I mean when I say I feel like I am not handicapped when competing is that I am just like the other athletes, and I think most of the athletes feel the same way. In the beginning nobody would come up to me. However, after a few races some athletes came around and they began to talk to me. During the early days one runner, Pete Wisnewski had a bet with me at every race on who would beat who. The loser had to hang the winner’s number in his bedroom until the next race. Now many athletes will come up to me before the race or triathlon to wish me luck.” – Rick Hoyt


Rick akhirnya akan lulus dari Boston University dengan gelar pendidikan khusus, mengikuti jejak ibunya. Apa yang Rick capai memotivasi adik-adiknya . Adik Rick yang termuda berkata, ”Saya rasa Rick sendiri, lulus dari statusnya sebagai penyandang tunadaksa. Ia lulus dari  universitas dengan keadaannya yang tak mampu berbicara  verbal.  Jika ia saja mampu lulus  dari perguruan tinggi, saya mestinya harus meraih lebih, jika tidak, itu sama halnya dengan pukulan bagi diri saya.”  Mengomentari pendapat adiknya, Rick menjawab, ”Harapan saya adalah bahwa dengan melihat apa yang bisa kulakukan  dan mendengarkan prestasi saya, semua orang, terutama yang masih muda akan menyadari bahwa saya sama seperti mereka ”.

Pada Februari 2008, Hoyts telah berkompetisi di acara Ke 958. Semua lomba tersebut adalah lomba-lomba yang cukup banyak  menguras daya tahan tubuh. Bayangkan  dengan  66 maraton,  triathlon 228  (termasuk enam kompetisi Ironman, 20 Duathlons, dan sekali bersepeda di seluruh Amerika.) Bisa dipastikan rangkaian perlombaan itu merupakan hal yang sangat sulit, tetapi Dick terus bersemangat.  Saat dalam lomba lari,  Dick mendorong kursi roda yang diduduki Rick  dengan  berlari. Saat lomba sepeda, Ia menggunakan sepeda khusus yang dapat dinaiki berdua dengan Rick. Saat lomba berenang, Dick akan meletakkan Rick dalam sebuah perahu khusus yang akan ditariknya di setiap kayuhan tangannya.
Awalnya, ada banyak pertentangan. Banyak orang yang dengan sinis, menggangap Dick berlebihan dalam mendidik Rick.  Dikatakan, bahwa ini bukan kehendak Rick. Tapi menanggapi hal ini, Dick menjawab dengan santai setiap kecaman yang datang. Ia menyadari, bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah kontrovesi besar. Ia tidak pernah berfikiran untuk menyalahkan pendapat negatif tentang dirinya maupun kepada Rick. Ia yakin suatu saat nanti, orang-orang tersebut akan lebih terbuka dan melihat apa yang ia lakukan sebagai usaha untuk membuat sebuah jembatan dari perbedaan besar.
Dan betul saja, masyarakat mulai berubah pendapat ketika  tim Hoyt menyelesaikan pertandingan di Bosto Marathon tahun 1981.  Perbedaan penerimaan ini, membuat mereka makin bersemangat dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti perlombaan Triathlon, dimana pesertanya harus berlari, berenang dan bersepeda. Saat itu Dick memutuskan untuk berlatih berenang dengan menggunakan beban. Hal yang sangat berat dan sulit.  Dick akan mengingat saat-saat dengan berkata “Aku selalu tenggelam bagai batu pada awalnya”.. Untuk bersepeda, Dick pun tertawa menyadari ia tidak lagi mengayuh sepeda setelah ia berumur 6 tahun.

Yang hebat dari hubungan ayah dan anak ini adalah, keduanya merasa saling terinspirasi satu sama lain.

“Rick adalah orang  yang  menginspirasi  dan  memotivasi saya, melalui  caranya dia  mencintai  olahraga  dan  persaingan,” - Dick Hoyt
“Ayah adalah salah satu idola saya. Begitu ia menetapkan untuk melakukan sesuatu,  Ayah akan pastikan untuk itu dan apapun itu,  sampai hal itu berhasil dilakukan. Misalnya begitu kita memutuskan untuk benar-benar masuk ke dalam  triathlon, ayah bersungguh-sungguh melatih dirinya, hingga lima jam sehari,  lima kali seminggu,  bahkan  ketika  dia  bekerja, ia terus berusaha melatih dirinya “-. Rick Hoyt

Mereka berdua juga orang-orang yang sangat terbuka, Tim Hoyt banyak terinspirasi dari pesaing sesama mereka. Dukungan dan semangat yang ditujuan pada mereka memang sangat luar biasa.

“Setiap kali kami melewati (biasanya pada perlombaan sepeda) atlet akan berkata”  Pergilah  untuk memenangkannya” atau “Rick!, Ayo..bantuanlah ayahmu! ” Ketika kami melewati orang-orang (biasanya di jalanan), mereka akan  mengatakan “ Go Team Hoyt! ” atau  ”Kalau bukan karena Anda, kami tidak akan di sini melakukan ini.” - Rick Hoyt


Dick dan Rick Hoyt dianggap sebagai orang-orang yang dapat dijadikan panutan dalam perjuangan hidup.
Meskipun demikian Dick Hoyt, dengan tetap rendah hati akan berkata ”Dia (Rick) telah memotivasi dan menginspirasi  saya. Dia orang yang sangat  tangguh,dan  ia tidak membiarkan  cacatnya menghalangi hal-hal yang dia suka lakukan,” Meskipun banyak  orang berpendapat bahwa sesungguhnya dalam semua perlombaan tersebut, Dicklah yang melewati masa-masa sulit. Namun Dick tetap rendah hati dan  terus mempromosikan anaknya,  Rick sebagai “atlet”. Dan akan mengatakan “Saya berada di luar semua  perlombaan itu,  Rick yang memenangkannya dengan meminjamkan lengan dan kaki saya  sehingga kita bisa  bersaing  bersama”.

SUMBER : http://anakspesial-edu.com/blog/cerita-ayah-1-dick-hoyt




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...